
Upaya mendorong transisi energi di Provinsi Jambi dinilai tidak cukup hanya mengandalkan teknologi dan kebijakan pemerintah. Kearifan lokal masyarakat disebut menjadi faktor penting agar pengembangan energi terbarukan benar-benar berjalan dan diterima di tingkat komunitas.
Hal itu mengemuka dalam workshop integrasi kearifan lokal dalam pengelolaan energi terbarukan yang digelar Yayasan Mitra Aksi bersama WWF Indonesia. Kegiatan tersebut mempertemukan akademisi, praktisi energi, organisasi masyarakat sipil, serta pemerintah daerah untuk membahas peluang dan tantangan transisi energi di Jambi.
Direktur Yayasan Mitra Aksi, Gie Irawan, mengatakan ketergantungan kita terhadap energi fosil sudah tidak dapat lagi menajdi pilihan untuk jangka panjang, selain mulai keterbatasan juga berdampak baruk pada lingkungan dan tidak bisa lagi dipertahankan. Menurut dia, peralihan menuju energi terbarukan perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi sosial dan budaya masyarakat.
“Energi fosil tidak bisa lagi kita andalkan. Keberhasilan energi terbarukan sangat ditentukan oleh kemampuan menyesuaikannya dengan kearifan lokal masyarakat,” kata Gie saat membuka kegiatan tersebut.
Workshop ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang dilakukan Mitra Aksi untuk mendorong percepatan transisi energi di Provinsi Jambi. Koordinator program energi Mitra aksi, Adi Chandra, menjelaskan sebelumnya tim telah melakukan pemetaan pemangku kepentingan terkait energi terbarukan.
“Hasil assessment itu kemudian dibahas dalam beberapa workshop bersama pemerintah daerah, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil,” ujar Adi.
Pada tahap terbaru, diskusi difokuskan pada integrasi kearifan lokal dalam pengembangan energi terbarukan di tingkat komunitas.
Potensi Energi Terbarukan
Dosen Universitas Jambi, Oki Alfernando, mengatakan Provinsi Jambi memiliki potensi energi terbarukan yang cukup besar. Sumber energi tersebut antara lain biomassa dari limbah perkebunan sawit dan pertanian, tenaga surya, mikrohidro, hingga biogas.
Menurut dia, potensi biomassa dari limbah sawit, karet, dan pertanian diperkirakan mencapai sekitar 2.000 megawatt. Sementara energi surya dapat dikembangkan di hampir seluruh wilayah kabupaten dan kota di Jambi.
Namun pemanfaatan energi tersebut masih menghadapi berbagai kendala.
“Biaya investasi masih tinggi, akses pembiayaan terbatas, dan pemahaman masyarakat tentang energi terbarukan masih rendah,” kata Oki.
Ia menilai pengembangan energi terbarukan skala komunitas dapat menjadi salah satu solusi. Model ini memungkinkan energi dikelola oleh masyarakat melalui kelompok tani, koperasi energi, atau Badan Usaha Milik Desa.
Peran Sistem Sosial Lokal
Praktisi energi terbarukan Ahmad Mahmudi mengatakan keberhasilan program energi di tingkat komunitas sangat bergantung pada sistem sosial yang berkembang di masyarakat.
Menurut dia, kearifan lokal merupakan sistem pengetahuan yang terbentuk dalam waktu panjang dan mengatur hubungan manusia dengan alam.
“Kearifan lokal adalah fondasi. Jika tidak dipahami, program energi bisa menjadi proyek yang ditinggalkan masyarakat,” kata Mahmudi.
Ia mencontohkan sejumlah inisiatif energi berbasis komunitas di berbagai daerah, seperti program desa biogas di Jawa Tengah dan pengolahan kelapa menjadi bahan energi di Flores Timur.
Pendekatan tersebut, menurut dia, berhasil karena menyesuaikan dengan mata pencaharian masyarakat setempat.
Kearifan Lokal yang Tergerus
Dalam diskusi tersebut juga disoroti perubahan yang terjadi pada sistem kearifan lokal masyarakat Jambi. Deforestasi, ekspansi industri, serta perubahan pola ekonomi dinilai turut melemahkan sistem pengetahuan lokal yang selama ini menjaga keseimbangan lingkungan.
Akibatnya, masyarakat semakin bergantung pada sistem ekonomi modern yang tidak selalu sejalan dengan prinsip keberlanjutan.
Mahmudi menilai langkah awal yang perlu dilakukan adalah pemetaan data komunitas secara menyeluruh. Data tersebut mencakup mata pencaharian masyarakat, kebutuhan energi, serta potensi sumber energi yang tersedia di wilayah tersebut.
“Energi masa depan bukan hanya soal listrik yang menyala. Yang lebih penting adalah masyarakat memiliki pengetahuan dan kemandirian untuk mengelolanya,” ujar Oki.
Workshop tersebut juga menjadi ruang diskusi bagi berbagai pihak untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan energi terbarukan di Jambi.
Para peserta menilai pendekatan teknologi perlu dipadukan dengan sistem sosial dan budaya masyarakat agar transisi energi di daerah itu tidak berhenti pada proyek jangka pendek, tetapi mampu bertahan dalam jangka panjang.
